Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, kini tengah menjadi titik nadir peradaban Islam Nusantara. Menyambut Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026, area pesantren disulap menjadi ruang perjumpaan yang hangat. Lebih dari 500 peserta dari seluruh penjuru tanah air disambut dengan deretan tenda hijau-putih yang memanjang, menciptakan atmosfer persaudaraan yang kental.
Kemeriahan semakin terasa dengan hadirnya bazar UMKM yang menjadi denyut ekonomi kerakyatan, serta lantunan shalawat dari anggota Ishari yang menggema di setiap sudut pesantren. Di tengah hiruk-pikuk persiapan, pesan mendalam disampaikan oleh Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), mengenai esensi pengabdian kita sebagai generasi penerus.
Jatahe awake dewek namung tabaruk marang amal-amale para masyayikh pinisepuh.
Artinya: Bagian kita hanyalah mengambil keberkahan dari amal-amal para masyayikh dan para sesepuh. Gus Yahya menegaskan bahwa di zaman ini, tugas utama santri dan warga NU adalah bertabaruk (mengharap berkah) kepada para pendahulu, karena kita tidak berada pada maqam untuk menciptakan amal sendiri.
Munas dan Konbes NU 2026 yang berlangsung pada 20-22 Juni 2026 ini bukan sekadar rutinitas organisasi. Forum tertinggi kedua setelah Muktamar ini akan membedah isu-isu krusial kebangsaan, antara lain:
Salah satu pengunjung, Wardi Joko Nugroho, mengungkapkan harapannya agar forum ini melahirkan solusi atas problematika umat yang kian kompleks. Ia juga mengapresiasi kesigapan para santri relawan yang bertugas menjaga ketertiban di tengah kepadatan lokasi.
Mari kita iringi perhelatan besar ini dengan doa bersama. Semoga Munas dan Konbes NU 2026 berjalan dengan lancar, penuh keberkahan, dan mampu melahirkan keputusan-keputusan yang maslahat bagi agama, bangsa, dan jam'iyah Nahdlatul Ulama.