Di tengah dinamika zaman yang penuh dengan ujian (fitnah), menjaga hati bukanlah sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak bagi setiap mukmin. Hati adalah pusat kendali yang menentukan arah langkah kita di dunia. Rasulullah SAW telah mengingatkan kita akan krusialnya organ kecil ini:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya: "Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, itu adalah hati." (HR. Bukhari & Muslim).
Untuk tetap teguh di tengah badai fitnah—baik berupa harta, jabatan, maupun arus informasi yang menyesatkan—kita perlu melakukan langkah konkret sebagai berikut:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Artinya: "Wahai Zat Yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." (HR. Ahmad).
Fitnah mungkin tidak bisa sepenuhnya dihilangkan, namun dengan hati yang tertata, kita mampu menjaga diri agar tidak terseret arus kerusakan. Mari kita luangkan waktu untuk terus mengevaluasi diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga langkah-langkah kecil ini menjadi wasilah bagi kita untuk meraih keselamatan di dunia dan akhirat.
Sumber: https://islam.nu.or.id/khutbah/khutbah-jumat-menata-hati-di-tengah-zaman-penuh-fitnah-BX6rj