Islam mengajarkan umatnya untuk selalu menjaga persatuan dan menghindari segala bentuk fanatisme yang bisa memecah belah masyarakat. Persatuan akan memperkuat solidaritas dan menumbuhkan sikap saling membantu, sedangkan perpecahan hanya akan membawa kelemahan dan permusuhan.
Rasulullah SAW telah mencontohkan pentingnya menjaga persatuan ini melalui sebuah peristiwa bersejarah di Madinah. Kala itu, seorang dari kaum Muhajirin dan seorang dari kaum Anshar terlibat perselisihan pribadi yang kemudian melebar menjadi seruan identitas kelompok masing-masing.
Dalam hadits riwayat Al-Bukhari, dikisahkan:
"Orang Muhajirin berseru, 'Wahai kaum Muhajirin (kemarilah)!' dan orang Anshar berseru, 'Wahai kaum Anshar (kemarilah)!' Rasulullah kemudian keluar dan bersabda, 'Mengapa kalian menyerukan seruan jahiliah?' Kemudian Rasulullah diberitahu bahwa seorang Muhajirin berselisih dengan seorang Anshar.' Beliau bersabda, 'Tinggalkanlah seruan itu, karena sesungguhnya itu (sikap yang) buruk.'" (HR. Bukhari)
Muhajirin dan Anshar bukanlah kelompok yang buruk; keduanya adalah komunitas muslim yang sangat berjasa dalam perjuangan Islam. Muhajirin adalah kaum muslimin yang berhijrah dari Makkah ke Madinah, sedangkan Anshar adalah warga lokal Madinah yang menyambut dan membantu mereka. Bahkan, Allah SWT memuji kedua kelompok ini dalam Al-Qur'an Surat At-Taubah ayat 100.
Namun, ketika identitas kelompok tersebut dijadikan alat untuk saling membela tanpa melihat kebenaran, Rasulullah SAW langsung mengingatkannya sebagai "Da'wa Jahiliyah" atau seruan jahiliah yang buruk dan harus ditinggalkan.
Menurut Imam Badruddin al-'Aini dalam Umdatul Qari, kebiasaan jahiliah yang dimaksud adalah sikap membela anggota kelompok secara membabi buta, bahkan ketika anggota tersebut berada di pihak yang salah atau melakukan kezaliman. Rasulullah SAW menghapuskan kebiasaan ini demi membangun masyarakat Madinah yang solid, kompak, dan bersatu tanpa sekat golongan.
Pesan dari peristiwa ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia yang kaya akan keberagaman suku, bahasa, dan budaya. Islam tidak melarang seseorang mencintai suku atau daerahnya, namun yang dilarang keras adalah fanatisme buta—yaitu membela kelompok sendiri secara keliru demi ego golongan.
Nilai-nilai ini sejalan dengan semangat persatuan bangsa kita yang tertuang dalam semboyan "Bhinneka Tunggal Ika". Para pendiri bangsa telah mencontohkan bagaimana menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan golongan.
Sebagai umat Islam sekaligus warga negara, kita memiliki tanggung jawab untuk terus merawat persatuan ini. Ketika ada perbedaan, mari kedepankan dialog dan musyawarah demi menjaga keutuhan bangsa serta mengamalkan ajaran Islam yang luhur.