Dunia pendidikan dan pemberdayaan masyarakat tengah berduka. Lima calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti program pelatihan bela negara. Peristiwa ini memicu kritik tajam dari berbagai elemen masyarakat sipil, termasuk Muhammad Isnur, perwakilan Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan.
Dalam tinjauannya, Isnur menegaskan bahwa pendekatan militeristik dalam ruang sipil—khususnya untuk urusan manajerial koperasi—adalah sebuah kekeliruan fundamental. Profesionalisme dalam mengelola organisasi harusnya bertumpu pada integritas dan kompetensi manajerial, bukan kekuatan fisik.
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا
Artinya: "Katakanlah (Muhammad), 'Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing.' Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya." (QS. Al-Isra: 84).
Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap bidang kehidupan memiliki fitrah dan jalannya masing-masing. Memaksakan metode militer ke dalam ranah sipil yang membutuhkan pendekatan partisipatif dan literasi keuangan justru menjauhkan kita dari tujuan utama pembangunan masyarakat.
Berikut adalah lima peserta yang telah berpulang ke Rahmatullah:
Pihak Kementerian Pertahanan (Kemenhan) melalui Kepala BPSDM, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan, menyatakan telah memberikan santunan sebesar Rp50 juta kepada masing-masing keluarga korban sebagai bentuk tanggung jawab moral. Kemenhan kini tengah melakukan evaluasi mendalam terkait profil kesehatan peserta dan intensitas kegiatan agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan.
Mari kita mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan almarhum/almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga kebijakan di masa depan lebih mengedepankan kemanusiaan dan relevansi kebutuhan masyarakat.